MANUSIA DAN KEBUDAYAAN
CONTOH KASUS
Saat Wayang dalam
Bahasa Inggris Memperoleh Standing
Applause Penonton
Minggu, 05 Oktober 2014
Washington, DC, - Perempuan itu menggerakkan tangannya
ke sana kemari dengan lincah. Boneka wayang yang dipegangnya mengikuti setiap
gerakan yang dia lakukan: naik, turun, ke kanan, ke kiri, maju, mundur. Setiap
gerakan disertai dengan cerita yang mengalir dengan suara berubah-ubah sesuai
peran yang sedang dibawakan. Di sekelilingnya duduk delapan pemusik dan satu
pesinden yang sesekali menyela cerita dengan tembang berbahasa Sunda.
Dia adalah Kathy Foley, dalang asal Amerika Serikat yang juga profesor di
University of California, Santa Cruz. Telah puluhan tahun Kathy menggeluti
dunia perwayangan. Disertasi doktoralnya di University of Hawaii tahun 1979
berjudul “The Sundanese Wayang Golek.”
Hari itu, Sabtu (4/10/2014), bertempat di Freer Gallery of Art yang merupakan
bagian dari Smithsonian Museum, Washington DC, AS, Kathy mementaskan wayang
golek dengan membawakan kisah “Lahirnya Hanuman Sang Jenderal Kera.” Kepada
penonton yang mayoritas warga Amerika, Kathy menjabarkan mengenai suasana
pertunjukan wayang yang sebenarnya. Tidak seperti di Gallery yang memiliki
tempat duduk tertata rapi layaknya bioskop dan para penonton duduk manis dari
awal hingga pertunjukan, pementasan wayang yang sesungguhnya di Indonesia
dilangsungkan dalam suasana hiruk pikuk.
“Di sekeliling tempat pertunjukan ramai dengan orang yang berjualan, anak kecil
berlalu-lalang, orang-orang berkumpul dan main kartu sambil membicarakan
berbagai hal. Mereka tidak duduk di satu tempat sepanjang pertunjukan, karena
pertunjukan yang sesungguhnya berlangsung dari jam 9 malam sampai jam 3 pagi,”
kata Kathy sebelum memulai pementasan.
Tanggapan :
Contoh dari kasus diatas, dapat dilihat bahwa orang Amerika
sangat mahir dalam memainkan wayang golek dan sangat tertarik dengan
kebudayaan kita, kebudayaan kita sangat beragam. Kita patut berbangga dengan kebudayaan yang
satu ini. Budaya yang berasal dari Jawa ini sudah mendunia dan dimainkan oleh
orang asing dengan dibawakan dalam bahasa Inggris yang membawakan kisah
Lahirnya Hanuman Sang Jenderal Kera seperti pada umumnya wayang juga di iringi musik-musik
khas jawa dan sinden. Penonton tersebut sangat menikmati pertunjukan wayang
tersebut dan memberikan applause kepada dalang perempuan asal amerika itu.
Untuk itu kebudayan kita perlu dikenali oleh orang-orang asing, bahwa Indonesia
memiliki kebudayaan yang banyak dan sangat beragam. Maka itu generasi kita inilah yang mestinya
melestarikan budaya-budaya Indonesia agar terkenal di mancanegara dan tidak di
klaim oleh Negara lain.
Manusia dengan kebudayaan tidak bisa di lepas begitu saja
dari kebudayaan, kebudayaan itu sendiri adalah sebuah kelompok orang dan
diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang
rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas,
pakaian, bangunan, dan karya seni. Jadi manusia dan kebudayaan saling berkaitan
yaitu makhluk Tuhan yang paling sempurna
memiliki akal pikiran dan menciptakan kebudayaan dari mereka sendiri dan melestarikannya dengan cara turun
temurun.
Sumber :
Dia adalah Kathy Foley, dalang asal Amerika Serikat yang juga profesor di University of California, Santa Cruz. Telah puluhan tahun Kathy menggeluti dunia perwayangan. Disertasi doktoralnya di University of Hawaii tahun 1979 berjudul “The Sundanese Wayang Golek.”
Hari itu, Sabtu (4/10/2014), bertempat di Freer Gallery of Art yang merupakan bagian dari Smithsonian Museum, Washington DC, AS, Kathy mementaskan wayang golek dengan membawakan kisah “Lahirnya Hanuman Sang Jenderal Kera.” Kepada penonton yang mayoritas warga Amerika, Kathy menjabarkan mengenai suasana pertunjukan wayang yang sebenarnya. Tidak seperti di Gallery yang memiliki tempat duduk tertata rapi layaknya bioskop dan para penonton duduk manis dari awal hingga pertunjukan, pementasan wayang yang sesungguhnya di Indonesia dilangsungkan dalam suasana hiruk pikuk.
“Di sekeliling tempat pertunjukan ramai dengan orang yang berjualan, anak kecil berlalu-lalang, orang-orang berkumpul dan main kartu sambil membicarakan berbagai hal. Mereka tidak duduk di satu tempat sepanjang pertunjukan, karena pertunjukan yang sesungguhnya berlangsung dari jam 9 malam sampai jam 3 pagi,” kata Kathy sebelum memulai pementasan.

Komentar
Posting Komentar